Hari ini sabtu (7 Agustus 2010), penulis mengantri untuk ACC ASKES di salah satu Rumah Sakit Pemerintah, pagi sebelum jam masuk kantor (08.00) sudah banyak masyarakat yang mengantri. Ikut antri di RS seperti ini bukanlah hal yang baru atau yang pertama penulis lakukan, entah karena akan memposting tentang antrian atau faktor X lain, muncullah moment-moment yang biasanya tidak pernah penulis jumpai dalam antrian-antrian sebelumnya tetapi kali ini muncul.
Ternyata masih ada Oknum yang berpakaian sepertinya sih pegawai RS, yang menitip ACC Askes yang mungkin saja teman atau kerabat si Pasien penitip ACC Askes, mungkin penitip ingin cepat atau sebagainya akan tetapi dengan cara melanggar hak-hak pengantri lain, ketidak beresan itu nampaknya diAmini saja oleh petugas Askes dengan memberikan ACC tsb, bahkan penulis sendiri belum mampu amar ma’ruf nahi mungkar pada kondisi tsb (mungkin postingan ini menjadi cara selemah-lemah iman), seharusnya kita semua sadar akan pentingnya kegiatan yang biasa disebut Antri ini, banyak ahli bicara, menurut mereka hal-hal seperti ini muncul akibat pendidikan di Indonesia masih mengutamakan hafalan, kognitif dsb bukan kepada pendidikan berbasis pengalaman (learning by doing, learning by experience) atau praktek. Sehingga kita hanya hafal antri tapi tidak faham filosofi antri itu sendiri. Dengan Antri kita belajar menghargai, menghormati hak orang lain. Di barat atau di Jepang masyarakat sudah terbiasa menghadapi antri dengan manajemen antri yang mereka perlihatkan, mereka mempersiapkan diri mereka menghadapi antri, nah ketika antri mereka mengisi waktu dengan membaca buku, artinya apa? Mereka tak rela waktu mereka habis atau terbuang percuma hanya karena menunggu giliran. Begitu cara mereka menghargai hak orang lain juga menghargai waktu. Jika dalam antri saja masyarakat kita tidak bisa tertib bahkan berusaha mencari “pintu belakang” ya maklum saja jika di negeri ini masih akrab ditelinga kita praktek KKN terselubung maupun terang-terangan.
Bagi yang tidak mempersiapkan diri menghadapi antrian dari rumah, Alhamdulillah penjual koran sudah stand by disana. Pengantri bisa membeli koran, karena Penulis juga melihat ada juga pengantri yang mengisi waktu dengan membaca Koran pagi, membaca koran tampaknya cukup ampuh mengusir kebosanan sambil menunggu giliran juga mengisi waktu dengan menambah wawasan tentunya.



semua hal ada hikmahnya kan?..mari kita terima setiap episode dalam kehidupan kita ini.
Oleh: nofrionsikumbang on 14 Oktober 2010
at 6:26 AM
co szukalem, dzieki
Oleh: Piongertien on 29 Januari 2011
at 8:42 AM